Masuk

Ingat Saya

Stereotip Etnik

Menurut KBBI stereotip ialah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka subyektif dan tidak tepat. Menurut De Jonge, stereotip adalah penilaian tidak seimbang terhadap suatu kelompok masyarakat. Penilaian tersebut terjadi karena suatu kecenderungan untuk menggenarilasi tanpa deferensi. Dari berbagai pengertian, stereotip etnik dapat didefinisikan sebagai gambaran tentang sifat, prilaku, ciri khas yang dianggap melekat pada suatu etnis atau kelompok menurut etnis atau kelompok lain.

Steoreotip etnik terjadi dalam kehidupan sehari-hari pada dalam kehidupan masyarakat, stereotip etnik timbul karena kontak dan komunikasi dengan etnik lain, namun kadang komunikasi itu tidak intens, sehingga dalam memandang etnis lain dengan prasangka yang umum atau general. Dalam memandang etnik lain menggunakan nilai dan sudut pandang etnik sendiri. Misalnya orang Jawa  beranggapan, bahwa orang Batak bila berbicara menggunakan nada tinggi seperti marah, memiliki sifat keras dan emosional, orang Madura kasar dan suka merampas, orang  Minangkabau pandai berdagang, orang Cina pelit dan pandai mengatur uang. Pandangan-pandangan  tersebut  diukur dari kacamata Jawa. Sebaliknya dari pandangan etnis non Jawa, banyak yang mengatakan bahwa orang  Jawa halus, lembut, basa-basi, namun di belakangnya mempunyai maksud. Stereotip etnik cenderung memandang sifat anggota kelompok etnik sama, padahal  belum mesti benar, misalnya anggapan bahwa semua orang Batak  keras dan emosional,  namun kenyataannya tidak semua orang Batak memili sifat keras dan emosional.

Dari kehidupan multikultural, misalnya di Yogyakarta juga ada stereotip etnik, misalnya bahwa mahasiswa asal Papua dianggap suka mabuk-mabukan, sehingga menimbulkan sikap yang kurang menerima terhadap etnis Papua, padahal anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Dari pandangan orang Jawa yang menganggap orang Batak cenderung keras dan emosional menganggap sifat orang batak sebagai hal yang tidak baik sehingga menimbulkan rasa tidak suka dibelakang dan keengganan berkomunikasi lebih lanjut. Bila orang Jawa melihat orang Minang yang pandai berdagang cenderung menganggapnya sebagai hal yang positif bahkan ingin mempelajari. Dalam berhubungan dengan etnis Cina, kadang pada orang Jawa muncul sentimen, namun kadang menjadikan orang Cina sebagai contoh dalam nasehat seperti `tirulah orang Cina yang pandai mengatur uang, sehingga bisa kaya, jangan boros`. Sebaliknya, orang non-Jawa juga kadang merasa tidak senang dalam berkomunikasi dengan orang Jawa,  orang non-Jawa berharap agar orang Jawa dalam berbicara jangan terlalu lembut dan pelan.

Dengan